Minggu, 12 April 2009
pengalaman pertamaku....
Diposting oleh ukhti_hafizah di Minggu, April 12, 2009 1 komentar
Minggu, 15 Maret 2009
Kunci Zuhud....
Aku tahu .….... rezeky ku tak mungkin diambil orang lain,
Karenanya hatiku tenang …………….
Aku tahu ……… amal-amalku tak mungkin dilakukan orang lain,
Maka aku sibukkan diriku untuk beramal …………
Aku tahu ……. Allah selalu melihatku,
karenanya aku malu bila Allah mendapatiku melakukan maksiat …………
Aku tahu …….. kematian menantiku,
Maka kupersiapkan bekal untuk berjumpa dengan Rabbku.
Diposting oleh ukhti_hafizah di Minggu, Maret 15, 2009 1 komentar
Hiasi Dirimu dengan Malu....
Semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmatimu,saudariku…
Malu...
demikianlah nama sebuah sifat yang sangat lekat ketika kita berbicara tentang wanita. Maka beruntunglah engkau saudariku ketika Allah menciptakanmu dengan sifat malu yang ada pada dirimu! Karena apa? Hal ini tidak lain karena malu adalah bagian dari iman.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seorang Anshar yang sedang menasehati saudaranya karena sangat pemalu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Biarkan dia karena rasa malu adalah bagian dari Iman.” (HR. Bukhari Muslim)
Hakikat rasa malu itu adalah sebuah akhlak yang memotivasi diri untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan membentengi diri dari kecerobohan dalam memberikan hak kepada yang berhak menerimanya. Seorang muslimah akan menjauhkan dirinya dari larangan Allah dan selalu menaati Allah disebabkan rasa malunya kepada Allah yang telah memberikan kebaikan padanya yang tidak terhitung.
Perintah yang Dibawa oleh Setiap Nabi...
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya di antara yang didapat manusia dari kalimat kenabian terdahulu ialah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” (HR. Bukhari)
Yang dimaksud dengan “kalimat kenabian terdahulu” ialah bahwa rasa malu merupakan akhlaq yang terpuji dan dipandang baik, selalu diperintahkan oleh setiap nabi dan tidak pernah dihapuskan dari syari’at para nabi sejak dahulu.Dalam hadits ini disebutkan, “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.”
Kalimat ini mengandung 3 pengertian, yaitu:
1. Berupa perintah: Jika perbuatan tersebut tidak mendatangkan rasa malu, maka lakukanlah. Karena perbuatan yang membuat rasa malu jika diketahui orang lain adalah perbuatan dosa.
2.Berupa ancaman dan peringatan keras: Silahkan kamu melakukan apa yang kamu suka, karena azab sedang menanti orang yang tidak memiliki rasa malu. Berbuat sesuka hati, tidak peduli dengan orang lain.
3.Berupa berita: Lakukan saja perbuatan buruk yang kamu tidak malu untuk melakukannya.
Malu? Siapa yang punya?.....
Sifat malu ada dua macam, yaitu:
1. Malu yang merupakan watak asli manusia
Sifat malu jenis ini telah menjadi fitrah dan watak asli dari seseorang. Allah menganugerahkan sifat malu seperti ini kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Memiliki sifat malu seperti ini adalah nikmat yang besar, karena sifat malu tidak akan memunculkan kecuali perbuatan yang baik bagi hamba-hamba-Nya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, dari Imran Ibn Hushain radhiyallahu’anhu: “Rasa malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari Muslim)
2. Malu yang diupayakan (dengan mempelajari syari’at)Al-Qurthubi berkata, “Malu yang diupayakan inilah yang oleh Allah jadikan bagian dari keimanan. Malu jenis inilah yang dituntut, bukan malu karena watak atau tabiat. Jika seorang hamba dicabut rasa malunya, baik malu karena tabiat atau yang diupayakan, maka dia sudah tidak lagi memiliki pencegah yang dapat menyelamatkannya dari perbuatan jelek dan maksiat, sehingga jadilah dia setan yang terkutuk yang berjalan di muka bumi dalam wujud manusia.”
Hati-Hati terhadap Malu yang Tercela...
Saudariku, ketahuilah bahwa ada malu yang disebut malu tercela, yaitu malu yang menjadikan pelakunya mengabaikan hak-hak Allah Ta’ala sehingga akhirnya dia beribadah kepada Allah dengan kebodohan. Di antara malu yang tercela adalah malu bertanya masalah agama, tidak menunaikan hak-hak secara sempurna, tidak memenuhi hak yang menjadi tanggung jawabnya, termasuk hak kaum muslimin.Nah, saudariku, kini engkau tahu! Meskipun malu adalah tabiat dasar seorang wanita, sifat ini tidak boleh menghalangimu untuk berbuat kebaikan. Berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan sampai engkau menjadi wanita yang paling mulia di sisi Allah! Wallahu a’lam.
Diposting oleh ukhti_hafizah di Minggu, Maret 15, 2009 0 komentar
Cinta Itu...
cinta itu...banyak orang bilang bahwa cinta itu butuh pengorbanan
bahwa cinta itu butuh pembuktian
cinta itu rasa yang paling unik dalam diri manusia
tidak ada yang tahu kapan cinta itu datang dan kapan cinta itu pergi
bahkan terkadang kita tidak pernah tahu apakah ini yang dinamakan cintasampai kita tersadar saat disebut nama dia
dada kita terasa berdesir tak karuan kita begitu tertarik setiap ada yang menceritakannya begitu bersemangat menceritakan kebaikan2nya
ada rasa cemburu bergejolak saat ada orang lain mencintainya
bahkan patah hati kala cinta bertepuk sebelah tangan
cinta yang seperti ini kurasa saat aku menginjakkan kakiku di SMU
sebetulnya rasa seperti itu sudah ada saat ku masih bau kencur
tapi belum mendalam seperti saat seragam abu2 melekat ditubuhku
ya ...
cinta memang begitu indah
tapi kata seorang teman
kadang cinta itu mengecewakan
tapi aku harus bersyukur
sampai kini tak dikecewakan
bukan karena aku kege-eran
tapi begitulah kenyataannya
dan betul rasa cinta itu butuh pengorbanan
cinta itu memang benar abstrak
bahkan rasa itu semakin kuat
meski tak bersua meski tak berjumpa
aku katakan pada temanku
saat hidayah itu datang
saat aku berkumpul dengan orang2 sholeh dan sholehah itu
cinta itu makin kuat
ingin rasanya menangis karena rindu yang begitu hebat
kukatakan lagi pada temanku itu
bahwa cinta yang ini beda
cinta ini tak pernah mengecewakan
ingin semakin kubesarkan rasa cinta ini
sebesar rasa cinta Ali sampai rela menggantikan menjemput kematian
sebesar rasa cinta Abu Bakar , rela digigit demi yang dicintai tenang
sebesar rasa cinta Mush'ab bin Umair , yang rela memasang badan
agar yang dicintai tak terluka pada perang uhud
saat mush'ab memegang arroya sebagai pemimpin perang
saat alliwa menunggu arroya pulang dengan kemenangan
mushab yang baik , begitu ia dijuluki
rela kedua tangannya terpotong
cinta itu cinta pada engkau ya Rasul Alloh
Kekasih Alloh
teladan tiada tara , pribadi yang luar biasa
guru terbaik sepanjang masa
Muhammad SAW ..
Diposting oleh ukhti_hafizah di Minggu, Maret 15, 2009 0 komentar
Rabu, 25 Februari 2009
Rahasia di balik sakit.....
Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan.
Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) . Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’: 35). Sahabat Ibnu ‘Abbas -yang diberi keluasan ilmu dalam tafsir al-Qur’an- menafsirkan ayat ini: “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Jarir). Dari ayat ini, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Namun di balik cobaan ini, terdapat berbagai rahasia/hikmah yang tidak dapat di nalar oleh akal manusia.
Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)
Sakit akan menghapuskan dosa
Ketahuilah wahai saudaraku, penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah engkau lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan mu).” (QS. asy-Syuura: 30). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)
Sakit akan Membawa Keselamatan dari api neraka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,” Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim)
Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya. Bergembiralah wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka.” (HR. Al Bazzar, shohih)
Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya
Wahai saudaraku, sesungguhnya di balik penyakit dan musibah akan mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah agar kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal ‘afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabb-nya. Oleh karena itu, jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Rabb-Nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. al-An’am: 42) yaitu supaya mereka mau tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah kepada-Ku, dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku, dengan cara taat dan pasrah kepada-Ku. (Tafsir Ibnu Jarir)
Terdapat hikmah yang banyak di balik berbagai musibah
Wahai saudaraku, ketahuilah di balik cobaan berupa penyakit dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak. Maka perhatikanlah saudaraku nasehat Ibnul Qoyyim rahimahullah berikut ini: “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali, -ed). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas)
Ingatlah saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih). Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini. Amin.
Diposting oleh ukhti_hafizah di Rabu, Februari 25, 2009 2 komentar
Senin, 23 Februari 2009
ayah...ibu....aku merindukan kalian...
segala puji bagi Allah...
yang telah memberikan kemudahan dalam hidup ini...
alhamdulillah...
zaman skrg memang sdh sngt canggih..
pagi tadi dh bicara dgn ibu dan ayah di kampung...
bertanya khabar...
bahagia sngt dah dengar suara mereka...
dengar tawa mereka...
dengarkan nasihat2 dari mereka...
mereka sngt rindukan kami...
kami pun jg sngt merindukan mereka..
hmm...
maafkan ana ayah...
maafkan ana ibu...
ana tak bisa selalu berada dekat dgn kalian...
walaupun ana jauh dari kalian...
do'aku tidak akan pernah lupa menyertai kalian...
dan...
kami hanya bisa menghubungi kalian lewat telephone...
Ya Allah...
aku sangat menyayangi mereka..
jagalah ayah dan ibuku...
ampunilah dosa mereka...
sayangi mereka...
seperti mereka menyayangi aku dari kecil hingga dewasa..
dulu..
sewaktu aku masih kecil..
aku suka sekali memegang tangan ayah..
tangan yang kekar inilah yg membesarkan aku..
tapi..
sekarang tangan itu tak kekar lagi..
tangan itu sdh semakin keriput..
karena usia yang semakin tua...
ayah dan ibuku...
kalian adalah pahlawanku...
begitu banyak pengorbanan kalian untukku...
tak bisa aku membalas semua jasamu...
saudaraku...
sudahkah hari ini kamu berbicara dgn orangtuamu??
sdh kah kamu bertanyakan tentang khabar mereka??
ingatlah..
sebenarnya mereka tak mengaharapkan apa2 dari kita...
mereka hanya ingin kita peduli dengan keadaan mereka..
mereka ingin melihat..
sebesar apa rasa cinta dan kasih kita kepada mereka...
saudaraku...
seandainya kita jauh dari mereka...
sering2lah telpon mereka..
jadilah anak yang berbakti kepada ibu bapak...
insya Allah... ayah...ibu....
aku merindukanmu....
Diposting oleh ukhti_hafizah di Senin, Februari 23, 2009 0 komentar
Jumat, 20 Februari 2009
ghadzul bashor...
bismillah...
Menahan pandangan merupakan salah satu ilmu dari ghadzul bashor, yaitu menahan pandangan dari yang haram-haram. Seperti riwayat Nabi Muhammad, bahwa dulu Nabi Muhammad memalingkan wajah Imam Ali ketika melihat wanita cantik
Ada beberapa cara untuk menahan pandangan:
1. Meningkatkan ketaqwaan. JIka taqwa sudah didalam dada, maka InsyaAllah segalanya jadi mudah. Menahan pandangan adalah perkara yang diperintahkan oleh Allah (QS An Nur 30-31). Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata : Rasulullah bersabda, "Malulah kepada Allah dengan sebenar benarnya." kami berkata, "Wahai Nabi Allah, sesungguhnya kami benar benar merasa malu, alhamdulillah. " Beliau bersabda, 'Bukan itu yang dimaksudkan. Akan tetapi yang disebut dengan malu kepada Allah dengan sebenar benarnya adalah engkau menjaga kepada (mata) dan segala apa yang disaksikannya; menjaga perut dan segala apa yang masuk kedalamnya; dan mengingat kematian beserta siksaan yang akan menimpanya. Barangsiapa yang menginginkan (kehidupan) akhirat, maka tinggalkanlah perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang melakukan semua itu berarti ia telah merasa malu.
2. Mengetahui manfaat menahan pandangan dan mudharat tidak menahan pandangan.
Diantara manfaat dari menahan pandangan adalah> Menahan pandangan akan menetramkan hati. ketika seorang hamba menahan pandangannya maka hati akan turut menahan syahwat serta keinginannya seperti firman Allah di surat AnNur 30 :" Katakanlah kepada laki laki yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka," Menahan pandangan akan membuat hati bercahaya dan bersinar yang kelak akan terlihat pada mata, wajah dan seluruh tubuhnya. selain itu akan menjernihkan firasat karena firasat itu berasal dari cahaya hati dan buahnya. Jika hati bersinar maka firasatnya akan tajam.
Selain itu, tidak menahan pandangan akan membuat hati gelisah, melunturkan hafalan, menyibukkan hati, mendatangkan kegundahan hati dan kegelisahan. .
3. Memalingkan pandangan jika tidak sengaja memandang. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah "Wahai 'Ali, janganlah engkau ikuti pandangan (pertama) dengan pandangan (berikutnya) . Karena pandangan pertama itu bagimu, sedangkan yang kedua tidak halal bagimu." Shohih Sunan Abi Dawud. Janganlah berlebih lebihan memalingkan pandangan sehingga membuat tersinggung seorang wanita.
4. Menyibukkan diri dengan hal hal yang bermanfaat seperti menuntut ilmu syar'i, menghafal AlQur'an
5. Menikah. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam bersabda : Wahai pemuda, barangsiapa diantara kalian yang sudah memiliki ba'ah (kemampuan) hendaknya ia menikah. Sesungguhnya yang demikian itu lebih dapat memelihara pandangan mata dan kemaluan" (HR Bukhari - Muslim)
6. Berdo'a memohon pertolongan kepada Allah dengan ikhlas, mengharap ganjaran hanya dari Allah,
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : Sesungguhnya apabila hati telah merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya maka tidak ada yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat dan lebih baik darinya..
jaga hati, jaga pandangan...
keep istiqomah..
Diposting oleh ukhti_hafizah di Jumat, Februari 20, 2009 0 komentar
Minggu, 08 Februari 2009
salam....
maaf teman2...
sdh lama x pernah menulis lg kat blog ni..
sibuk sangat lah...
sibuk belajar nak ikut seleksi penerimaan mahasiswa baru(SPMB)
ujiannya mungkin bulan juni..
mudah2an bs lulus seleksi,,,
tolong doanya yerr..
smoga Allah permudahkan semua urusan kite..
Allah sentiasa bersama dgn kite..
yang penting adalah usaha dan doa,,
selebihnye kite serahkan je dgn Allah...
ukhuwah fillah...
Diposting oleh ukhti_hafizah di Minggu, Februari 08, 2009 0 komentar
Senin, 19 Januari 2009
Qiyamul Lail (Shalat Malam)
Allah Ta’aala berfirman:
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan diakhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”
(QS. Azd-Dzariyaat: 17-18)
Ayat ini berkaitan dengan sifat orang-orang muhsinin (yang baik).
Ibn ‘Abbas –Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan: “Tiadalah berlalu malam atas mereka melainkan pasti mereka mengambil sebagiannya (untuk shalat malam).”
Allah Ta’aala berfirman pula tentang sifat ibadur-Rahman: “ Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (Shalat malam).”
(QS. Al-Furqan: 64)
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (untuk shalat malam), sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. As-Sajdah: 16-17)
Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
“Shalat yang paling afdhal setelah shalat wajib adalah shalat malam.”
(HR. Muslim dan lain-lain).
Dalam hadits yang lain disebutkan kepada Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam seseorang yang tidur sepanjang malam sampai subuh lalu beliau –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
“Dia adalah seorang yang kedua telinganya dikencingi Syetan.”
(HR. Bukhari – Muslim)
Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda pula: “Syetan membuat tiga ikatan pada tengkuk salah seorang dari kalian ketika ia tidur. Ia pukulkan pada tiap ikatan itu ucapan “Malam masih panjang, tidur lagi sajalah!” Jika ia bangun dan berzdikir kepada Allah, lepaslah satu ikatan. Jika dilanjutkan dengan berwudhu , terurailah ikatan yang kedua. Dan jika ia shalat, maka lepaslah ikatan yang ketiga. Maka pagi harinyapun ia bersemangat dan baik kondisi jiwanya. Sebaliknya jika tidak, iapun jadi malas dan buruk kondisi jiwanya.”
(HR. Bukhari – Muslim)
Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda pula: “Posisi Rabb (Allah) yang paling dekat dengan hambanya adalah dipenghujung malam, jika anda mampu untuk berzdikir kepada Allah pada saat itu maka lakukanlah.”
(HR. At-Tirmidzi, Ibn Huzaimah dll dengan sanad shahih)
Beliau –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda pula:
“ Rabb (Tuhan) kami yang Maha Suci lagi Maha Tinggi turun kelangit dunia tiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir seraya berkata: “Siapa berdo’a kepada-Ku pasti Aku kabulkan, siapa meminta kepada-Ku pasti Aku beri dan siapa memohon ampun kepada-Ku pasti Aku ampuni ia.”
Beliau –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda pula:
“Pintu-pintu langit dibuka pada pertengahan malam lalu penyeru-pun menyeru: “Apakah ada orang berdo’a, pasti dikabulkan do’anya. Apakah ada orang meminta, pasti diberi permintaannya. Dan apakah ada orang yang sumpek (banyak problem), pasti dihilangkan darinya. Maka tidaklah seorang muslimpun yang berdo’a saat itu melainkan pasti Allah mengabulkannya kecuali zaniah (pelacur yang belum bertaubat) dan ‘Asysyaar (Seorang yang mengambil harta manusia dengan cara bathil).”
(Hadits shahih diriwayatkan at-Tabhrani)
Dari aisyah –Radhiallahu ‘Anha berkata: “Bahwasannya Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam shalat malam sampai pecah-pecah (bengkak) kedua kakinya, lalu akupun berkata kepada Beliau: “Mengapa Anda lakukan ini wahai Rasulullah, padahal telah diampuni dosa anda yang lalu dan yang akan datang?” Beliau –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur”.
(HR. Bukhari – Muslim)
Al-Hasan al-Bashri –Rahimahullah ditanya: “Mengapa orang-orang yang rajin bertahajjud itu wajah mereka berseri-seri?” beliau menjawab: “Sebab mereka menyendiri bersama ar-Rahman, lalu Dia pakaikan pada mereka seberkas cahaya dari cahaya-Nya.”
Al Hasan –Rahimahullah berujar: “Seseorang melakukan suatu dosa, maka iapun terhalang dari qiyamullail.”
Seseorang bertanya kepada orang shaleh, Aku tidak dapat bangun malam. Tunjukkan padaku obatnya! Orang shaleh itupun menjawab: “Janganlah kamu bermaksiat kepada-Nya (Allah) disiang hari, pasti Dia akan membangunkanmu di Malam hari.”
Sufyan Ats-Tsauri –Rahimahullah bercerita aku benar-benar terhalangi dari qiyamullail selama lima bulan gara-gara satu dosa yang aku lakukan.
Abu Sulaiman –Rahimahullah bertutur: Kelezatan malam yang dirasakan oleh orang yang rajin shalat malam itu lebih besar daripada kelezatan lahwun (perbuatan sia-sia) yang dirasakan oleh ahlinya. Sungguh jika tidak ada malam aku tidak ingin berlama-lama tinggal didunia ini.”
Ibn al-Munkadir –Rahimahullah berujar: “Kelezatan dunia ini tinggal tersisa tiga perkara: qiyamul lail, berjumpa dengan akhwat (teman-teman yang shaleh), dan shalat berjama’ah.”
Diposting oleh ukhti_hafizah di Senin, Januari 19, 2009 0 komentar
Selasa, 13 Januari 2009
SAVE PALESTINE....
Bismillaahirrahmaan irrahiim…
Alhamdulillaahi –l Khaaliqil kauni wa maa fiih, wa jaami’in naasi li yaumin laa raiba fiih. Asyahadu an laa ilaaha illallaah, wa anna Muhammadan rasuulullaah… wa ba’d…
Perhatian dunia dalam beberapa hari ini tertuju pada Jalur Gaza. Invasi tentara Yahudi ke Gaza menelan banyak korban terutama wanita dan anak-anak. Korban luka-luka semakin memperbanyak deretan korban meninggal dunia. Dunia pun merespon dengan berbagai macam aksi.
Di antara aksi sebagai bentuk kepedulian atas musibah yang menimpa kaum muslimin di Palestina itu adalah aksi berupa bantuan kemanusiaan. Yang paling menonjol dalam hal bantuan tersebut adalah Saudi Arabia, di bawah pimpinan Raja Abdullah bin Abdul Aziz –ayyadahullah-. Ini bukan klaim tanpa bukti. Sebagai contoh: Program “Donasi Untuk Palestina” digencarkan, walaupun sudah sejak lama dicanangkan. Rumah-rumah sakit ternama di pusat kerajaan Saudi difokuskan untuk menangani korban luka-luka akibat serangan kaum Yahudi tersebut. Bantuan berupa makanan, pakaian dan obat-obatan juga terus mengalir sampai tulisan ini diturunkan. Kalangan ulama pun tidak tinggal diam. Baik perseorangan maupun lembaga/organisasi. Syeikh Abdul Aziz Alu Syeikh dan Syeikh Abdurrahman As Sudais mengecam dengan keras aksi serangan tersebut dalam khutbah jum’at mereka. Mereka dan umumnya para khatib di Saudi tidak lupa mendo’akan kaum muslimin Palestina secara khusus. Lajnah Daa’imah juga mengeluarkan pernyataan dalam menyikapi tragedi di Jalur Gaza tersebut. Dan masih banyak lagi bentuk bantuan baik materi maupun moril/spirit.
Namun ada segelintir orang menutup mata dengan kenyataan ini dan berkomentar, “Saudi Arabia adalah negara yang takut dengan Amerika dan kurang memberikan bantuan yang konkrit kepada kaum muslimin di Palestina.” atau kalimat yang semisalnya.
Terhadap siapa saja yang berkomentar seperti di atas, saya katakan:
Apakah maksud Anda dengan kata ‘konkrit’ bahwa Anda menginginkan agar Pemerintah Saudi mengirimkan tentaranya ke Palestina untuk menghantam pasukan Israel? Baiklah jika memang demikian, apakah Amerika akan tinggal diam? Padahal Allah berfirman (yang artinya), “…dan janganlah kalian menjatuhkan diri-diri kalian dalam kebinasaan…” (Qs. Al Baqarah: 195)
Taruhlah seperti apa yang Anda inginkan bahkan lebih dari itu -semua pemerintah negara muslim mengizinkan rakyatnya untuk berjihad ke palestina dan saya berhusnudzdzan Anda akan ikut serta di dalamnya-, maka Anda akan berjihad di bawah bendera siapa di Palestina? Di bawah bendera HAMAS kah? Atau berspandukkan AL FATH? Atau barangkali di bawah komando Jihad Islami Palestina (JIP)? Atau Anda memimpin laskar jihad yang Anda buat sendiri? Tahukah Anda bahwa jihad bukan hanya perkara mengucapkan dan meneriakkan, “…’Isy kariiman… aw Mut syahiidan…” (Hiduplah dalam kemuliaan atau matilah sebagai syahid)? Namun jihad membutuhkan seorang imam dan tandhim (taktik dan siasat perang). Dan yang lebih penting lagi, apakah Anda yakin bahwa masing-masing front/partai/ hizb itu berperang untuk meninggikan kalimat Laa ilaaha illallaah? Qul Haatu burhaanakum in kuntum shaadiqiin.
Jika Anda mengatakan, “Kaum muslimin harus berada dalam satu barisan dalam menghadapi dan menyikapi Yahudi.”, maka saya tidak berbeda pendapat dengan Anda. Bahkan tidak ada dua orang muslim yang berselisih pendapat tentangnya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya (yang artinya): “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Qs. Ash Shaff: 4)
Namun bagaimana Anda bisa mempersatukan barisan kaum muslimin untuk berjihad, sedangkan di tengah-tengah mereka masih banyak kaum muslimin yang menyembah kuburan, menghambakan diri kepada dukun (dengan mematuhi persyaratannya atau menjalankan lelaku walaupun bertentangan dengan syari’at), paranormal (dengan membenarkan berita gaib yang sampai kepadanya), dan tukang pelet? Bagaimana pula halnya kalau kaum muslimin yang terjun di medan jihad, banyak di antara mereka yang memakai jimat, atau membaca mantera-mantera yang telah dirajah oleh mbah-mbah dukun supaya kebal senjata api dan agar tidak terdeteksi oleh radar?!
Bagaimana Anda akan mempersatukan kaum muslimin dalam rangka jihad, kalau segolongan di antara mereka tidak akan berangkat perang sebelum melakukan thawaf (mengelilingi) kuburan seseorang yang dianggap wali? Atau bagaimana pula jika segolongan yang lain tidak akan berperang kalau yang menjadi imam bukan dari golongannya? Atau bagaimana kaum muslimin akan bersatu padu dalam medan jihad, kalau mereka ketika dikumandangkan seruan azan “Mari mencapai kemenangan…” 2x bermalas-malasan mendatangi masjid (terutama waktu fajr/shubuh) ?
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pondasi segala sesuatu adalah Al Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” (HR. At Tirmidzi, Hasan Shahih). Al Islam itu sendiri adalah istislam (berserah diri) kepada Allah dengan mentauhidkanNya, dan inqiyaad (patuh) dengan mentaatiNya, dan baraa’ah (berlepas diri) dari kesyirikan dan pelakunya. Berdasarkan hadits ini, kaum muslimin tidak akan berhasil menggapai puncak kejayaan, jikalau pondasi dan tiangnya keropos.
Jika Anda bersikap adil, mengapa Anda hanya menggugat Saudi Arabia? Bukankah negara yang berbatasan dengan Palestina adalah Mesir, Yordania, Libanon serta Syiria? Seharusnya negara-negara tersebut yang paling mudah untuk mengirim pasukan-pasukannya mengepung dan meremukkan artileri dan infanteri Yahudi. Namun pertanyaan politis yang harus Anda jawab terlebih dahulu adalah: Apakah negara-negara Arab yang disebutkan terakhir (sebagai misal saja) politik luar negerinya merupakan politik anti Amerika???
Dalam lingkup yang lebih sempit, idealnya negara-negara Arab seharusnya bersatu dalam menyikapi tragedi berdarah tersebut. Namun, kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Buktinya salah satu negara yang berbatasan dengan Jalur Gaza menilai Hamas lah yang menyebabkan tragedi berdarah di kota yang berhadapan dengan laut Mediterrania (Al Bahru -l Mutawassith) itu. Sedangkan Saudi Arabia dan beberapa negara arab lainnya menilai Israel telah melakukan sesuatu yang tidak berprikemanusiaan. Lihatlah! Sesama negara Arab berbeda pandangan dan sikap. Dan yang demikian itu bukanlah hal yang baru. Telah terjadi jauh sebelumnya pengkhianatan di kalangan negara Arab dalam menghadapi Israel pada tahun 1967 dalam perang yang dikenal sejarah sebagai Perang Enam Hari. Berbeda halnya dengan yang terjadi pada tahun 1973, di mana bangsa Arab bersatu padu di bawah komando Raja Faisal bin Abdul Aziz –rahimahullah- akhirnya berhasil memukul mundur dan mengusir Israel keluar dari Sainaa’.
Oleh karena itu bersikaplah adil dan bijaksana dalam menilai segala sesuatu. Jangan sembarangan menuduh tanpa bukti dan fakta. Mengapa kita disibukkan dengan menilai dan mensifati orang lain dan lalai menilai diri kita sendiri? Mengapa kita tidak berlomba-lomba melebihi Saudi Arabia dalam membantu korban kedzaliman Yahudi tersebut? Silahkan saja bandingkan antara Saudi Arabia dengan negara mana saja dalam hal donasi untuk Program Peduli Palestina.
Akhirnya, mari kita mendo’akan kaum muslimin yang muwahhid yang menjadi korban kedzaliman tentara Yahudi di Jalur Gaza khususnya, dan Palestina umumnya, agar mendapatkan syahadah fii sabiilillah dan semoga kita dikumpulkan bersama para Nabi, shiddiiqiin, para syuhada’ dan orang-orang shalih.
Washallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad, wa aakhiru da’waanaa anil hamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Diposting oleh ukhti_hafizah di Selasa, Januari 13, 2009 0 komentar
